Indonesia saat ini masih jauh dari cita – cita bangsa untuk memajukan kesejahteraan bersama, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertipan dunia. Berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan social. Masih banyak daerah yang belum tersentuh oleh pemerintah dalam hal kesejahteraan. Pembangunan yang hanya terpusat pada daerah tertentu saja membuat perekonomian, sarana pendidikan dan sarana lainnya yang dapat menunjang kesejahteraan menjadi tidak merata. Keadaan ini memanjing masyarakat yang tinggal di pedesaan berbondog-bondong mengadu nasib di kota pusat. Kondisi ini membuat masyarakat dari desa ke kota pusat tidak bias bersaing baik dalam bidang pendidikan dan perekonomian. Pada kenyataannya kemiskinan di kota pusa tidak dapat dihindari.
Jakarta sebagai ibu kota Negara, merupakan salah satu contoh kota yang masih banyak masyarakat miskin. Ini membuat pembanggunan kota Jakarta tidak tertata rapih. Dampak dari semua ini kota Jakarta menjadi tidak bersih, anak jalanan yang jumlahnya semangkin meningkat setiap tahun, dan banjir yang selalu melanda jika turun hujan pada kapasitas maksimal. Kesejahtaraan yang tidak merata mengakibatkan keceburuan sosial pada setiap warga Jakarta yang memicu tingkat kejahatan yang sangat tenggi. Terbukti dengan tidak amannya setiap individu yang tinggal di kota Jakarta dibandingkan daera lainnya.
Masa modern ini Manusia tidak bias mengandalkan pengetahuan dari kepercayaan nenek moyang dan doktrin pengedahuan yang mengarahkan seseorang pada kebodohan, untuk memenuhi kebutuhan para penguasa yang bersifat pragmatis. Jika kita selalu terjebak pada bentuk kekuasaan yang hanya mensejahterakan para penguasa, kita akan hanya menjadi budak-budak yang selalu diatur layaknya seperti robot. Pengusa tidak pernah mau tahu tentang kesedihan kaum tertindas. Penguasa akan menggunakan kekuatan militer dan peperangan untuk membersihkan atau menyingkirakan kaum tertindas yang mereka anggap sebagai sampah. Untuk selalu bekuasa para penguasa akan mengunakan segala cara, hingga selalu mengadu domba para kaum tertidas ( masyarakat ),agar tidak dapat bersatu melawan kekuasaannya. Konflik ras dan perpecahan yang lainnya akan selalu diisukan untuk beberapa kepentingan.
Hanya dengan persatuan kaum tertindas dapat lepas dari para penguasa yang tidak berpihak kepada rakyat. Pendidikan kritis harus dapat diperoleh, untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki kesadaran bahwa manusia pada dasarnya punya panggilan bersifat ontologis dan Historis. Bahwa manusia punya keinginan ingin menjadi yang lebih sempurna, dapat memahami dunia dan meciptakan sejarah pedapan baru. Pada akhirnya dapatmenghasilkan kebudayaan yang lebih baik untuk menghadapi dunia modern.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar