SENI RUPA INDONESIA
Seni rupa Indonesia sangat dipengaruhi oleh adat, agama, feodalisme dan kolonial. Adat istiadat dan agama dalam sejarah Indonesia telah menghasilkan uapacara-upacara tradisional. Upacara-upacara ini ditentukan dengan ketentuan yang sangat mengikat agar apa yang dilakukan sebagai cara untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki supaya dapat dikabulkan oleh sang Pencipta. Demi tujuan supaya upacara yang dilakukan terkabulkan diperlukan adanya peralatan khusus sebaik mungkin. Peralatan ini sebagaian dapat dibuat sendiri dengan kemahiran pembuatnya atau ada pula yang harus dibeli oleh orang lain. Pada masyarakat tradisional jumlah peralatannya lebih banyak dibandingkan peralatan masyarakat modern, karena tingkat emosional manusia tradisional lebih tinggi daripada tingkat rasionalnya.
Barang-barang yang banyak dipergunakan seperti pembakaran kemenyan, tambah, kendi sebagai tempat air minum, tempat tembuni (ari-ari), payung dan barang-barang perlengkapan seperti tumbak, sodor, pendaharan (alat makan), lante (lampit), epok (tempat sirih), pakecokan (tempat meludah), semambu (tempat rotan), Mandau, pedang, dan perisai.
Walaupun sudah memasuki abad ke-21 (millennium 3) namun masih banyak upacara tradisional yang diselenggarakan, ada yang bersumber dari zaman prasejarah, zaman Hindu-Buddha, maupun zaman modern. Upacara yang beraneka ragam memerlukan peralatan yang membuatnya memberi kesempatan bagi para pengrajin untuk membuatnya, sekaligus melestarikan keberadaannya dalam zaman sekarang. Diantara upacara tradisional yang terkenal di Indonesia seperti Gawai Adat Masyarakat Dayak, Tiwah yang merupakan upacara peralihan dari kehidupan dunia ke akhirat pada masyarakat Dayak, Rambosolok dari Tana Toraja, Ngaben dari Bali dan Imlek/Cap Go Meh.
Seni budaya feodal juga punya pengaruh dalam sejarah seni Indonesia. Feodalisme berasal dari kata feudum yang artinya tanah pinjaman. Sehingga feodalisme mengandung pengertian sebagai system atau masyarakat yang berdasarkan pada penguasaan tanah. Di Eropa pada abad pertengahan system feudal merupakan tata cara masyarakat yang kuat atas dasar penguasaan tanah, karena waktu itu tanah merupakan sumber pencarian utama. Sampai akhir abad ke-17 di Perancis rakyat kecil di bebani pajak oleh penguasa-penguasa sampai mencapai 79 persen dari penghasilan rakyat. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadi nya revolusi Perancis. Selain soal tanah kepangkatan juga disewakan oleh raja dalam wujudnya sebagai gelar bangsawan yang dapat dopakai secara turun menurun. Dengan analogi feodalisme di Eropa melalui pemerintahan Belanda di Indonesia disusun masyarakat yang mirip dengan apa yang terjadi di Eropa. Para raja atau raja kecil setingkat bupati umumnya mau bekerja sama dengan Belanda demi kelestarian kedudukannya sebagai penguasa. Belanda selalu memakai politik pecah belah (devide et impera), melalui kerajaan-kerajaan kecil dapatlah Belanda menguasai Indonesia. Belanda pun memelihara terus gelar-gelar kebangsawanan Indonesia seperti panglima, raja, sunan, sultan bupati, patih, tengku, wedana, dan demang. Mereka merasa aman kedudukannya berkat perlindungan yang diberikan oleh Belanda.
Selain kekuasaan yang terbatas serta gelar kebangsawanan, yang paling mencolok adalah perilaku sebagai penguasa kecil yang ditiru dari atasannya. Mereka perlu memakai tata cara seperti yang disistemkan oleh Belanda dalam menjalankan Pemerintahannya. Misalnya soal tempat tinggal yang secara alami telah menimbulkan kesenjangan sosial seperti arsitektur bangunan tradisional kaum feudal yaitu rumah panjang, joglo, limas, serotong. Perabotan rumah tanggan yang dibuat dengan karya ukir seperti tempat tidur. Busana yang merupakan seni pakaian yang bisa meningkatkan status sosial dan kendaraan yang modelnya mirip dengan raja-raja Eropa Barat.
Sebelum bangsa barat sampai di Indonesia bangsa Indonesia telah memiliki seni budaya yang terbentuk dalam zaman prasejarah, Hindu-Buddha. Bangsa Portugis sampai di Indonesia tahun 1511 di ikuti oleh bangsa Belanda hampir 100tahun kemudian (1596). Bangsa Belanda berkuasa di Indonesia sampai 1942 dengan diselingi pemerintahan Inggris (Interregmum) selama 5 tahun (1811-1816). Barulah pada awal abad ke-20 dapat diciptakannya Pax Neerlandia dengan menguasai Indonesia secara keseluruhannya. Dalam rentan waktu kekuasaan yang cukup lama ini, membuat pengaruh seni budaya Belanda paling besar dibandingkan bangsa barat lain yang pernah berkuasa di Indonesia. Sifat dan lamanya pemerintahan oleh Belanda timbul suatu alkulturasi antar budaya Indonesia yang kemudian melahirkan satu kebudayaan Indis. Wujud dari kebudayaan Indis ini antara lain berupa Rumah. Salah satu contohnya Rumah besar di komplek Rumah Sakit Cikini dengan halaman sampai mencakup Taman Ismail Marzuki yang dimiliki seorang Indonesia namun berstatus sebagai warga Negara Belanda dan beristrikan orang Belanda, yaitu Raden Saleh Syarif Bustaman.
Kebudayaan Indis di Indonesia berakhir dengan kedatangan Jepang yang terkenal sangat anti Barat, antara lain larangan memakai Bahasa Belanda. Namun dari hal-hal yang sudah memasyarakat seperti pengaturann rumah, cara makan, berjalan terus dan sudah menjadi Budaya Indonesia.
Seni lukis Indonesia sebelum Perang Dunia II juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan seni modern Indonesia saat ini. Sejak awal penjajahannya, Belanda telah mengirimkan pelukis-pelukisnya tepatnya Juru Gambar ke Indonesia dengan tujuan untuk menggambarkan apa yang ada di Indonesia, waktu itu alat foto belum dikenal. Adanya pemalsuan gambar dalam abad ke-17 sampai 19 terhadap objek yang digambar sedikit ada kemungkinannya, sehingga menutup mata dunia tentang penderitaan, kerugian atau pelanggaran HAM yang di alami rakyat Indonesia atas penjajahan Belanda. Beberapa pelukis lazim menggambar pemandangan alam yang eksotis dan kemegahan bangunan rumah pejabat Belanda. Diantara pelukisnya yang terkenal adalah Johannes Oliver, Roorda Van Eysinga, J.Rach. Adanya kebiasaan para pembesar VOC dan Hindia Belanda lukiskan kemegahan rumah tempat tinggal dan keluarga mereka dengan tujuann sebagai pamer dan kenangan.
Secara historis, karya pelukis saat itu memang diperlukan oleh pemikir-pemikir orientalis yang selama ini belum mengenal betul Indie dengan alam serta kedudukannya. Walau ada kesan masih belum sempurna secara naturalis, namun kesan lain yang antic menjadi dokumen pengukur gaya dan kemampuan pelukis zaman tersebut. Dalam abad ke-20 pun Belanda masih memerlukan pelukis Indonesia untuk melukis wajah-wajah etnis Indonesia yang sekarang dipasang diruang antropologi Museum Nasional Jakarta. Sebagian dari gambar-gambar dari zaman colonial tersebut atas usaha Edwin’s Gallery telah dipamerkan dalam pemran gambar-gambar Tua Indonesia Tempo Doeloe di Galeri Nasional Indonesia. Para pelukis Indonesia menggambar tentang alam dan manusia serta binatang di Indonesia. Para pelukis Indonesia cenderung sebagai juru gambar, belum ketingkat pelukis yang sudah harus memberi unsur seni didalamnya.
Dalam pandangan bahwa yang disebut sebagai Indonesische Schilderkunst dikaitkan dengan wujud seni batik atau seni lukis Bali dari Ubud. Atau diasosiasikan dengan hal-hal yang romantis dari Zaman Kolonial seperti gunung-gunung yang mengandung sifat mistis, sawah ladang yang menghijau, daun kelapa atau palem yang melambai-lambai. Karena itu orang Belanda melihat Seni atas dasar bahwa seni barat adalah yang menjadi pusatnya, sedangkan yang non-barat sebagai periferi saja.
Ada 4 fase yang membedakan seni lukis Indonesia, yaitu :
- fase kesatu (1900-1942) yang didominasi oleh bentuk-bentuk atau gaya Barat maupun Timur dalam Mooi Indie. Orientalisme didasarkan pada pembentuknya selera colonial yang eksotis yang berbeda dengan yang TImur.
- fase kedua (1942-1950) yang oleh bangsa Indonesia diperjuangkan adanya identitas Indonesia. Pada waktu itu (termasuk zaman Jepang) bangsa Indonesia sedang dalam perjuangan fisik untuk memperoleh pengakuan kemerdekaannya yang disebutnya berakhir sampai pengakuan kedaulatan.
- fase ketiga (1950-1965) berkembang macam-macam aliran seni lukis, baik yang nasional maupun yang internasional. Di antaranya yang cukup terasa adalah adanya gaya (mashab) Yogyakarta dan Bandung.
- fase keempat (1965-1995) yang merupakan perpaduan antara seni yang idiom Barat dengan Timur yang tradisional.
Dari peninjauan tersebut, makan seni gambar atau lukis sebelum abad ke-20 merupakan masa pra-modern.
Dengan berpegangan pada periodisasi Helena Spanyaard tersebut, maka seni lukis modern Indonesia dimulai abad ke-20 (1900-1942). Masa tersebut merupakan masa penjajahan Belanda atas Indonesia yang diberi suasana politik etika (Ethische Politiek). Sementara itu terjadi pula Kebangkitan Nasional Indonesia. Sehingga dalam seni lukis terjadi pada awalnya kelompok Belanda dalam Mooi Indie, sedangkan dari Indonesia timbul reaksi dalam wujudnya PERSAGI.
Dalam suasana ekonomi liberal Belanda di Indonesia akhir abad ke-19, lebih-lebih pada awal abad ke-20, banyak perusahaan Belanda yang didirikan di Indonesia yang berpusat di kota-kota besar. Operasionalnya di daerah seperti perkebunan, pertambangan, pelayaran dengan kantor pusatnya di kota-kota besar istimewa Batavia. Jumlah orang Belanda cepat meningkat dan mereka dengan disertai keluarganya, memerlukan kebutuhan psikis seperti lukisan, kerajinan, di samping keperluan hiburan seperti pertunjukan, film, balai pertemuan. Mereka memerlukan kehidupan budaya (culturele leven).
Untuk memenuhi kebutuhan psikis tersebut, didirikan De Vereeniging Der Nederland-Indische Kunstkring (1 april 1902). Di bawah pimpinan Domine Carpentier-Alting mulai diselenggarakan pameran lukisan yang pertama (1902). Dan dinamakan Bataviasche Kunstkring. Kegiatannya buka hanya di seni lukis, juga dalam seni patung, seni hias, musik, sandiwara, dan dansa. Yang mendapat sambutan utama adalah seni lukis. Dalam fase pertama banyak pameran karya pelukis Belanda, hal itu akan mendorong seni lukis di Indonesia berkembang.
Pameran karya pelukis kenamaan dari Belandda, Rembrandt dilakukan dengan reproduksinya (1903) yang berhasil memuaskan, sehingga hal serupa dilakukan di kota-kota besar lainnya. Kemudian diikuti pameran seni Tiongkok (1904). Dalam rangka memperingati 300 tahun kelahiran Rembrandt diadakan pameran Rembrandt kedua (1906). Untuk pengembangan lebih lanjut dibawah arsitek Moojen, 80 peserta peminat meningkatkan seni gambar (lukis) yang dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama yang sudah agak pandai dengan objek lukisan kehidupan seperti jambang dan bunga. Sampai tahun 1912 kursus menggambar di bawah pimpinan Van de Graaf, guru gambar Koning Willem III Gymnasiium. Semua peminatnya kaum pria, belum ada wanita yang berminat. Makin hari diperlukan adanya pelukis professional di Indonesia, bukannya hanya juru atau guru gambar saja.
Untuk menampung kegiatan Bataviasche Kunstkring diperlukan adanya bangunan khusus. Tempat yang dipilih akhirnya adalah tempat perusahaan De Bouwploeg di Jalan Teuku Umar daerah Menteng. Arsitek bangunannya adalah Moojen, dibuatlah bangunan berlantai dua yang didpenanya dibuat dua buah menara dengan teras di antaranya yang cukup lebar. Lorong didalamnya dihubungkan dengan tiga lengkung gaya Byzantium. Dengan adanya pusat kesenian tersebut, warga Belanda dapat lebih mengarahkan kegiatan keseniannya. Dalam seni lukis senbagai kegiatan yang utama, lahirlah yang disebut Mooi Indie atau Hindia Jelita atau HIndia Molek.
Pierre Alexander Regnault (1968-1954) yang mempunyai minat memajukan seni lukis, sekaligus bisnisnya mengeluarkan majalah bulanan Verf en Kunst yang disebarkan secara gratis kepada pelanggannya. Ia pun memberikan cara sewa pinjam catnya kepada para pelukis serta museum. Akhirnya diadakannya pameran lukisan mutakhir (1933). Regnault dianggap sebagai avant-garde dalam pengumpulan lukisan. Avant Garde adalah gerakan eksperimental dan berhaluan maju dalam bidang seni, berasala dari bahasa Perancis yang berarti pasukan terdepan. Menyiratkan perubahan dalam bentuk kesenian dan dalam usaha para artis untuk melepaskan diri dari belenggu cita-cita yang sudah mapan. Gerakan ini mengalami perjuangan panjang sbelum memperoleh pengakuan sebagai satu ekspresi artistic yang sahih.
Sebagian besar anggota Mooi Indie adalah orang Belanda, bangsa Indonesia hanya sedikit dan yang etrpilih adalah mereka yang pada umumnya cenderung pendukung aliran seni lukis Barat karena pendidikan yang diperolehnya. Sementara itu sebagian dari bangasa Indonesia yang kuat nasionalitasnya mendirikan organisasi sendiri: PERSAGI. Karya pelukis Mooi Indie adalah yang realistis-impresionalistis dari lansekap Indonesia, pemandangan kota, pasar. Dalam nomor julibeum java-Bode (1927) terpasang iklan dari perusahaan seni yang menawarkan sejumlah Indische Kunstproducten dengan cat minyak, aquarel, pastel dalam lansekap, sawah, laut, pegunungan serta barang-barang seni lainnya (hasil kria seperti dari kayu, perak, batik, tenun) yang semuanya merupakan cendera mata untuk kenangan Mooi Indie.
Beberapa orang Indonesia yang aktif dalam Mooi Indie antara lain adalah : Abdulah Suria Subroto (1887-1941), Basuki Abdullah (1915-1994), Mas Pringadi (1875-1936), Wakidi (1889-1979). Sesuai dengan zamannya, mereka adalah kaum naturalis yang memandang alam sebagai ukuran keindahannya. Walaupun ada kritikan terhadap pandangan mereka, antara lain karena dinilai menjiplak alam (mimetic), tetapi mereka telah mapu mengabadikan alam yang makro kedalam kanvas yang mikro, dari luar dimasukan kedalam rumah. Sanjungan terhadap karyanya adalah bahwa indahnya seperti apa yang di alam.
Bagaimanapun juga Mooi Indie lahir di Indonesia, dikerjakan oleh orang-orang yang ada ayau pernah tinggal di Indonesia, sehingga menjadi asset yang dimiliki Indonesia waktu itu. Pelukis-pelukis ataupun juru gambar dari Jawa cenderung oergi ke Barat untuk mengembangkan diri seperti Raden Saleh, Abdulah Suryosubroto, Basuki Abdullah. Sebaliknya di Bali, pelukis-pelukis Barat cenderung pergi ke Bali dan menetap serta menjadi orang Bali. Di antaranya adalah pelukis-pelukis kenamaaan dunia seperti; Rudolf Bonnet (1895-1978) yang lahir di Amsterdam, setelah memperdalam ilmunya di Italia ia pergi ke Bali (1929). Salah satu lukisan yang terkenal adalah Arjuna Bertapa (1933). Adrian Jean Le Mayeur de Mempres (1880-1958), berasal dari Belgia dan tiba di Bali pada tahun 1932. Untuk memperoleh wanita sebagai model yang tepat, Le Mayeur mengawini seorang penari Bali yang cantik, tinggi semampai bernama Ni Polok (1935). Le Mayeur wafat di negeri kelahirannya, studio dan museumnya diwariskan kepada pemerintah RI. Arie Smith (1916-…) berasal dari Belanda, dalam masa pendudukan Jepang Smith menjadi tawanan perang dan dipekerjakan di Muang Thai, ikut membangun jembatan di sungai Kwai. Setelah bebas ia ke Bandung dan memberi kuliah seni grafis dan anak-anak (1952-1955). Pengalamannya di Bandung sebagai Dosen dan kecintaannya kepada bali diwujudkannya dengan mengadakan The Young Artis yaitu grup seni untuk meningkatkan kemampuan calon-calon muda Bali. Hasilnya adalah lahir generasi yang lain daripada generasi sebelum PD II yang sekarang memegang peranan penting dalam aliran seni lukis di Bali. Antonio Mario Blanco (1926-1999) berdarah Spanyol, wafat di Bali sebagai WNI. Perkawinannya dengan Ni Ronji yang dijadikan model lukisannya menjadikan ia terkenal di dunia. Selain Ni Ronji putrinya bernama Ni Cempaka juga dilukis dengan telanjang dada diberi judul “Ni Cempaka Menari” (1970).
Dalam decade 30an, kebangkitan nasional Indonesia cenderung pada sikap yang kooperatif pada Belanda. Hal itu disebabkan, akibat Belanda melarang Partai Komunis Indonesia setelah berontaknya pada tahun1926-1927, menangkap dan mengasingkan tokoh-tokoh nasionalis seperti Soekarno dan Moh. Hatta. Maka partai-partai yang tertinggal banyak melakukan koperasi dengan Belanda, mereka berjuang secara parlementer melalui Volksraad yang di bentuk Belanda. Tetapi dalam seni, yang kegiatannya terbatas dalam masyarakat nasionalis dapat terus berjuang melalui seni. Mooi Indie yang dinilai oleh kaum nasionalis sebagai proyek indah dari pemerintah Belanda dan kurang memberi tempat bagi kaum nasionalis, mendorongnya untuk mendirikan persatuan ahli gambar Indonesia.
PERSAGI didirikan di Jakarta tanggal 23 Oktober 1938. dipilih sebagai penulis Sindudarsono Sudjojono. Seni Indonesia saat ini dan yang akan datang, yang disebut dan di agung-agungkan oleh Belanda dengan Mooi Indie, hanya Mooi Indie bagi bangsa asing terutama turis-turis yang melihat gunung, pohon kelapa dan sawah sebagai trimurti yang di negerinya tidak ada. Mereka benar-benar kagum pada Mooi Indie yang umumnya merupakan karya pelukis Belanda. Sementara itu pelukis pribumi tidak memperoleh tempat di Kunstkring. Seniman harus memilik dua sifat; seni dan berani, dari keduanya akan melahirkan kebenaran dan keindahan. Keindahan bukan dalam arti bagus bagi anggapan public biasa, tetapi dalam arti estetis bagi seorang seniman. Ditangan generasi mudalah terletak kesenian yang merdeka, segar, dan hidup. Bangsa Indonesia harus menemukan sendiri gaya seni sendiri atas dasar kenyataan yang ada di Indonesia. Persagi membuat sambutan masyarakat mulai berubah, bukan semata-mata Mooi Indie dalam arti indah, tetapi bagus dalam arti itulah yang nyata di Indonesia, bukan di awan! Pandangan orang barat tehadap seniman Indonesia dari PERSAGI menyadari karya seni yang ekspresionis yang akan mejadi milik Indonesia masa depan. Takluknya Belanda terhadap Jepang (Maret 1942) membuat PERSAGI bubar, sehingga umurnya hanya sekitar 3,5tahun saja.